Kamu mencintainya layaknya berdiri ditepi jurang dalam keadaaan gelap yang entah kamu tak tau harus melangkah maju atau mundur. Mencintainya membuatmu berangan-angan, berharap nyaman dan tak ingin lepas darinya. Membangun rumah tangga bersamanya pun tak lepas dari angan-angan panjangmu. Ya, pikiranmu terus di lalui dengan angan-angan panjang yang entah bertuan atau tidak. Sayangnya kamu tidak bisa terus-terusan berada dalam keadaan ini, entah itu temen rasa pacar atau memang sudah pacaran yang jelas agamamu melarangnya dan kamu tau itu.
Kamu menjalani semuanya dengan hati yang setengah-setengah. Disisi lain kamu ingin merasakan rasanya dicintai dan mencintai layaknya orang-orang. Bahasa gaulnya sekarang kalo nggak punya pacar berarti kamu nggak laku atau kamu terlalu kudet. Toh pacaran juga nggak ngapa-ngapain bisa saling kasih semangat, ada yang ngingetin makan mandi tidur kata mereka *alarm pun kalah hehe. Tapi disisi lain sebenarnya hatimu tidak bisa menerima itu sepenuhnya. Disaat kamu sudah menjalin hubungan dengannya, diam-diam saat tengah malam kamu memikirkan apakah yang aku lakukan ini benar. Ada semacam rasa bersalah pada diri sendiri. Yang lama-lama membuatmu berfikir sempit akan sebuah kebahagiaan. Kamu berfikir cinta itu adalah tolak ukur sebuah kebagaiaan yang nantinya akan berakhir sebagai bucin (budak cinta) haha
Saat itu pula kamu bingung harus melepaskan dengan rasa cinta yang ada atau membiarkannya tinggal disana. Jangan-jangan kamu tidak mau melepaskan dia karena kamu terlalu khawatir kalau-kalau dia berakhir dengan yang lain. Lagi-lagi jika harus mempertahankannya kamu merasa bersalah dengan diri sendiri. Ingin langsung menikah tapi kamu belum siap mental apalagi dia, orang tuamu pun tak akan merestuinya.
Sejak awal sebenarnya kamu sudah tau tentang ini, tau harus dibawa kemana hubungan dan perasaanmu. Dalam agamamu sudah jelas bahwa hubungan diluar pernikahan itu jelas-jelas dilarang. Ini tidaklah diungkapkan oleh seorang yang ahli agama melainkan ada dalam wahyu-Nya yang begitu jelas. Dalam hatimu, kan aku pacaran nggak ngapa-ngapain, aku tak akan melanggar batas dengannya. Kamu berdusta pada dirimu sendiri karena sudah pasti ada apa-apa diantara kalian. Kata-kata rindu yang selalu dilontarkan, kata-kata sayang yang selalu membahagiakan, curhat sampai tengah malam, kemudian saling bertemu untuk melepas rindu, tatapan mata yang membawa sejuta makna, sentuhan sederhana dan lain sebagainya yang lama-lama kau anggap wajar tanpa orang lain tau. Semua terlalu indah tetapi ada yang mengganjal.
Tetapi bersyukurlah kamu masih mempunyai hati yang masih mempertimbangkan agama sebagai tolak ukurnya. Karena ketika kita terhimpit suatu masalah, ketika kita dalam keadaan sakaratul maut, agama adalah jalan satu-satunya untuk kembali. Ketika kamu memilih untuk melepaskannya karena agama bukan berarti hidupmu akan hampa. Cobalah berfikir luas dan terbuka. Agar kamu bisa mendapatkan keputusan yang tepat karena salah langkah akan membawamu kedalam jurang yang dalam. Pilihan ada ditanganmu sekarang.
Komentar
Posting Komentar